Selasa, 12 Februari 2013

Sejarah Tradisi Islam Nusantara


Sejarah Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

Agama Islam di Indonesia
Sekitar abad ke-7 dan ke-8 Indonesia sudah ada pedagang-pedagang dari India (Gujarat), Arab dan Persia. Mereka berdagang di Indonesia dengan memperdagangkan rempah-rempah dan emas. Pada waktu itu Selat Malaka merupakan tempat yang paling ramai di Nusantara, maka dari itu Selat Malaka berperan sebagai pintu gerbang ke lautan Nusantara.
 
Sambil menunggu angin musim yang baik, para pedagang asing tersebut melakukan interaksi dengan penduduk setempat, selain menjalin hubungan dagang, para pedagang asing membawa ajaran Islam beserta kebudayaannya sehingga semakin lama ajaran dan kebudayaan Islam berpengaruh terhadap penduduk setempat.

Pada awalnya pengaruh Islam hanya berkembang di daerah-daerah pantai, namun lambat laun berkembang di wilayah pedalaman. Ada beberapa pendapat yang menyatakan tentang masuknya Islam ke Indonesia. Pendapat tersebut antara lain :

    Masuknya Islam ke Indonesia antara abad 7 dan 8, buktinya pada abad 7 dan 8 telah terdapat
perkampungan Islam di sekitar Malaka.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 11, buktinya Nisan Fatimah binti Maimun di desa Leran (Gresik) Jawa Timur yang berangka tahun 1082

    Islam masuk ke Indonesia pada abad 13, buktinya :
Batu nisan Sultan Malik Al Saleh berangka tahun 1297

        Catatan Marcopolo tahun 1292 yang menyatakan bahwa penduduk Perlak telah memeluk agama Islam

        Catatan Ibnu Batutah tahun 1345 -1346 yang menyatakan bahwa penguasa Samudra Pasai menganut paham Syafi’i

        Catatan Ma Huan yang menyatakan bahwa pada abad 15 sebagian besar masyarakat di Pantai Utara Jawa Timur telah memeluk agama Islam

        Summa Oriental karya dari Tome Pires yang memberitahukan tentang penyebaran Islam meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga kepulauan Maluku.


Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia

Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai yang terletak di Lhokseumawe berdiri pada abad ke-13. Raja pertama Samudra Pasai adalah Sultan Malik Al Saleh yang memerintah hingga tahun 1297.

Sepeninggal Sultan Malik Al Saleh, Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al Tahir. Pada masa pemerintahannya Samudra Pasai berkembang menjadi daerah perdagangan dan penyebaran Islam.

Banyak pedagang muslim Arab dan Gujarat yang tinggal di Samudra Pasai sehingga Samudra Pasai berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia

Perkembangan Kerajaan Samudra Pasai didorong beberapa faktor yaitu :

1.       Letak Samudra Pasai strategis di tepi selat Malaka

2.       Melemahnya kerajaan Sriwijaya yang menyebabkan Samudra Pasai berkesempatan untuk berkembang

Samudra pasai selanjutnya diperintah oleh Sultan Ahmad. PADA masa ini terjalin dengan kesultanan Dehli di India yang dibuktikan dengan kedatangan Ibnu Batutah di Samudra Pasai tahun 1345 kerajaan Samudra Pasai akhirnya mengalami kemunduran sepeninggal Sultan Ahmad. Hal ini disebabkan oleh terdesaknya perdagangan Samudra Pasai oleh Malaka

Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh berdiri pada awal abad ke-16 yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah setelah berhasil melepaskan diri dari kerajaan Pedir. Beberapa faktor yang mendorong berkembangnya kerajaan Aceh, antara lain :
1.            Jatuhnya Malaka dalam kekuasaan Portugis tahun 1511
2.            Letak kerajaan Aceh sangat strategis pada jalur perdagangan internasional
3.                  Kerajaan Aceh mempunyai pelabuhan dagang yang ramai dan menjadi pusat      agama Islam.

Kerajaan Aceh akhirnya mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Wilayah kekuasaan kerajaan Aceh bertambah luas hingga ke Deli, Nias, Bintang, Johor, Pahang, Perah dan Kedah. Dalam upayanya memperluas wilayah ternyata diikuti dengan upacara penyebaran agama Islam sehingga daerah-daerah yang dikuasai Kerajaan Aceh akhirnya menganut Islam

Corak pemerintahan kerajaan Aceh memiliki ciri khusus yang didasarkan pemerintahan sipil dan agama. Hukum adat dijalankan berlandaskan Islam yang disebut Adat Maukta Alam.

Setelah Sultan Iskandar Muda meninggal Aceh mengalami kemunduran karena :

1.Tidak ada raja-raja yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas
2.Timbulnya pertikaian antara golongan bangsawan (teuku) dan golongan ulama (teungku)
3.Timbulnya pertikaian golongan ulama yang beraliran Syiah dan Sunnah Wal Jamaah
4.Banyak daerah yang melepaskan diri seperti Johong, Pahang, Perlak, Minangkabau dan Syiak
5.Mundurnya perdagangan karena selat Malaka dikuasai Belanda (1641)

 Kerajaan Demak

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad 15, setelah berhasil melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri di Pulau Jawa.

Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak mengalami perkembangan pesat. Faktor-faktor pendorong kemajuan kerajaan Demak adalah :

1.      Runtuhnya kerajaan Majapahit
2.      Letak Demak strategis di daerah pantai sehingga hubungan dengan dunia luar menjadi terbuka.
3.      Pelabuhan Bergota di Semarang merupakan pelabuhan ekspor impor yang sangat penting bagi Demak.

Demak memiliki sungai sebagai penghubung daerah pedalaman

Kerajaan Demak dengan bantuan wali sanga berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa pada masa inilah Masjid Agung Demak dibangun. Ketika Malaka. Dikuasai Portugis, Demak merasa dirugikan sehingga pasukan Demak yang dipimpin Pati Unus dikirim untuk menyerang Portugis di Malaka tahun 1513, tetapi mengalami kegagalan. Pati Unus kemudian terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.

Kerajaan Pajang

Kerajaan pajang didirikan oleh Joko Tingkir yang telah menjadi raja bergelar Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, kerajaan mengalami kemajuan. Pengganti Sultan Hadiwijaya adalah putraya bernama pangeran Benowo. Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Arya Pangiri (Putra Sultan Prawoto). Akan tetapi pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh Sutawijaya (Putra Ki Ageng Pemanahan). Pangeran Benowo selanjutnya menyerahkan pemerintahan Pajang kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pemerintahan Pajang ke Mataram.

Kerajaan Mataram Islam
 
Kerajaan Mataram Islam berdiri tahun 1586 dengan raja yang pertama Sutawijaya yang bergelar Panembahans Senopati (1586-1601). Pengganti Penembahan Senopati adalah Mas Jolang (1601 – 1613). Dalam usahanya mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Pantai untuk memperkuat kedudukan politik dan ekonomi Mataram. Mas Jolang gugur dalam pertempuran di Krapyak sehingga dikenal dengan nama Panembahan Seda Krapyak.

Kerajaan Mataram kemudian diperintah Sultan Agung pada masa inilah Mataram mencapai puncak kejayaan. Wilayah Mataram bertambah luas meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat kemajuan yang dicapai Sultan Agung meliputi :

1) Bidang Politik

Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang VOC di Batavia. Serangan Mataram terhadap VOC dilakukan tahun 1628 dan 1929 tetapi gagal mengusir VOC. Penyebab kegagalan antara lain :

a. Jaraknya terlalu jauh yang mengurangi ketahanan prajurit Mataram
b.      Kekurangan persediaan makanan
c. Pasukan Mataram kalah dalam persenjataan dan pengalaman perang.

2) Bidang Ekonomi

Kerajaan Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi

3) Bidang Sosial Budaya

 Munculnya kebudayaan kejawen yang merupakan kebudayaan asli Jawa dengan kebudayaan Islam
  Sultan Agung berhasil menyusun Tarikh Jawa
Ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat, sultan Agung mengarang kita sastra Gending Nitisruti dan Astabrata.

Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645, kerajaan mataram mengalami kemunduran sebab penggantinya cenderung bekerjasama dengan VOC.

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon didirikan Fatahillahs setelah menyerahkan Banten kepada putranya. Pada masa pemerintahan Fatahillah (Sunan Gunung Jati) perkembangan agama Islam di Cirebon mengalami kemajuan pesat. Pengganti Fatahillah setelah wafat adalah penembahan Ratu, tetapi kerajaan Cirebon mengalami kemunduran. Pada tahun 1681 kerajaan Cirebon pecah menjadi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman.

Kerajaan Makasar

Kerajaan Makasar yang berdiri pada abad 18 pada mulanya terdiri dari dua kerajaan yaitu kerajaan Gowa dan Tallo (Gowa Tallo) yang beribu kota di Sombaopu. Raja Gowa Daeng Maurabia menjadi raja Gowa Tallo bergelar Sultan Alaudin dan Raja Tallo Karaeng Matoaya menjadi patih bergelar Sultan Abdullah.

Kerajaan Gowa Tallo (Makasar) akhirnya dapat berkembang menjadi pusat perdagangan yang didorong beberapa faktor, antara lain :

1.         Letaknya strategis yang menghubungkan pelayaran Malaka-Jawa-Maluku
2.         Letaknya di muara sungai yang memudahkan lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman
3.         Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis yang mendorong para pedagang mencari pelabuhan yang memperjual belikan rempah-rempah
4.                  Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal.

Kerajaan Ternate

Kerajaant Ternate berdiri pada abad ke-13 yang beribu kota di Sampalu. Agama Islam mulai disebarkan di Ternate pada abad ke-14. pada abad ke-15 Kerajaan Ternate dapat berkembang pesat oleh kekayaan rempah-rempah terutama cengkih yang dimiliki Ternate dan adanya kemajuan pelayaran serta perdagangan di Ternate.

Ramainya perdagangan rempah-rempah di Maluku mendorong terbentuknya persekutuan dagang yaitu :

    Uli Lima (Persekutuan Lima) yang dipimpin Kerajaan Ternate
    Uli Syiwa (Persekutuan Sembilan) yang dipimpin kerajaan Tidore

Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada saat itu wilayah kerajaan Ternate sampai ke daerah Filipina bagian selatan bersamaan pula dengan penyebaran agama Islam. Oleh karena kebesaransnya, Sultan Baabullah mencapa sebutan “Yang dipertuan” di 72 pulau.

Kerajaan Tidore

Kerajaan Tidore berdiri pada abad ke-13 hampir bersamaan dengan kerajaan Ternate. Kerajaan Tidore juga kaya rempah-rempah sehinga banyak dikunjungi para pedagang. Pada awalnya Ternate dan Tidore bersaing memperebutkan kekuasaan perdagangaan di Maluku. Lebih-lebih dengan datangnya Portugis dan Spanyol di Maluku. Akan tetapi kedua kerajaan tersebut akhirya bersatu melawan kekuasaan Portugis di Maluku.

Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Pada masa pemerintahannya berhasil memperluas daerahnya sampai ke Halmahera, Seram dan Kai sambil melakukan penyebaran agama Islam.

Sejarah Tradisi Islam Nusantara

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Usman binn Affan R.A mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Usman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Samudra Pasai.

Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada peng-islam-an penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa penduduk Nusantara masuk Islam secara besar-besaran pada abad tersebut, disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti atau mempuni.

Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab.

Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol.

Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak.

Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut.

Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah, terutama Belanda, menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka.

Maka terputuslah hubungan umat Islam Nusantara dengan umat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan umat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.


SEJARAH TRADISI ISLAM DI NUSANTARA ( Menurut Pendapat Lain )
A.    Seni Budaya Lokal sebagai Bagian dari Tradisi Islam                                                 

Masyarakat Indonesia sebelum kedatangan Islam ada yang sudah menganut agama Hindu dan Budha maupun menganut kepercayaan adat setempat. Para muballigh berpendapat bahwa agar bisa diterima oleh masyarakat setempat, Islam harus menyesuaikan diri dengan budaya lokal  maupun kepercayaan yang sudah dianut dengan tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Selanjutnya terjadi proses akulturasi (percampuran budaya). Proses ini menghasilkan budaya baru yaitu perpaduan antara budaya setempat dengan budaya Islam.
Setiap wilayah di Indonesia mempunyai tradisi yang berbeda, oleh karena itu proses akulturasi budaya Islam dengan budaya setempat di setiap daerah terdapat  perbedaan.

1. Sumatera

Budaya yang sudah mengakar di Sumatera adalah budaya Melayu berupa kesusasteraan. Akulturasi antara dua budaya tersebut menimbulkan kesusasteraan Islam. Sehingga para ulama disamping sebagai pendidik agama juga dikenal sebagai sastrawan, misalnya Hamzah Fansuri, Syamsudin (Pasai), Abdurrauf (Singkil), dan Nuruddin ar Raniri. Ketiga ulama tersebut banyak menulis sastra Melayu yang bercorak tasawwuf.

Beberapa karya besar dari masa ini adalah Syarab al ‘Asyiqin dan Asrar al ‘Arifin (Hamzah Fansuri), Nur al Daqaiq (Syamsudin), Bustan al Salatin (Nuruddin al Raniri). Karya-karya lainnya adalah Taj al Salatin, Hikayat Iskandar Dzulqarnain, Hikayat Amir Hamzah, dan Hilayat Aceh. Karya-karya tersebut sebagian besar berbentuk prosa. Bentuk sastra Melayu lainnya adalah syair dan pantun.

2. Jawa

Sebelum Islam datang, di Jawa terdapat budaya Jawa Kuno sebagai hasil akulturasi dengan budaya India yang masuk bersama agama Hindu dan Budha. Bila dibandingkan dengan budaya Melayu, pengaruh budaya Islam terhadap budaya Jawa lebih kecil.  Hal ini terlihat misalnya pada penggunaan huruf Arab lebih kecil dibanding huruf Jawa, kedua bentuk puisi lebih sering digunakan dibanding prosa.

Wayang adalah salah satu budaya Jawa hasil akulturasi dengan budaya India. Cerita-cerita pewayangan diambil dari kitab Ramayana dan Bharatayudha. Setelah terjadi akulturasi dengan Islam tokoh-tokoh dan cerita pewayangan diganti dengan cerita yang bernuansa Islam.

Demikian juga dengan wayang golek di daerah Sunda, cerita-ceritanya merupakan gubahan dari cerita-cerita Islam seperti tentang Amir Hamzah (Hamzah adalah paman Rasulullah SAW).

3. Sulawesi

Meskipun masyarakat Sulawesi baru memeluk Islam pada abad ke-17, namun mereka mempunyai keteguhan terhadap ajaran Islam. Karya budaya mereka yang bersifat Islami banyak berupa karya sastra terjemahan dari karya berbahasa Arab dan Melayu, seperti karya Nuruddin al Raniri. Karya lain yang bersifat asli adalah La Galigo (syair kepahlawanan raja Makassar).

Selain kesenian di atas terdapat pula bentuk kesenian visual (seni rupa) seperti seni kerajinan, seni murni, seni terapan dan ornament (hiasan). Ornament terdapat pada wadah, senjata, pakaian dan buku. Bentuk hiasan pada ornament diambil dari bentuk flora, fauna dan grafis meniru gaya hiasan Arab. Bentuk ornamen pada pakaian diwujudkan melalui teknik batik, sulam dan border.

 B. Apresiasi Terhadap Tradisi dan Upacara Adat Kesukuan Nusantara

Setiap daerah dimana Islam masuk sudah terdapat tradisi masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh Hindu dan Budha adapula tradisi asli yang sudah turun temurun. Seperti halnya di Sumatera, di daerah lainpun para muballigh memilih mempertahankannya namun meberikan warna Islam.


 Berikut ini beberapa contoh adat kesukuan di Indonesia yang bernuansa Islam :
1.     Tahlilan

Tahlilan adalah upacara kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca surat Yasin dan beberapa suray dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil (laailaaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah).

Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT (tasyakuran) dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1.000 dan khaul (tahunan).

Tradisi ini berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu dan Budha yaitu kenduri, selamatan dan sesaji. Dalam agama Islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena mengandung kemusyrikan.

Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat atau nasi dan lauk-pauk yang dibawa pulang oleh peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah Sunan Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut karena harus meninggalkan tradisi mereka, sehingga mereka kembali ke agamanya

2. Sekaten

Sekaten adalah upacara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Keraton Yogyakarta atau Maulud. Selain untuk Maulud sekaten diselenggarakan pula pada bulan Besar (Dzulhijjah). Pada perayaan ini gamelan Sekati diarak dari keraton ke halaman masjid Agung Yogya dan dibunyikan siang-malam sejak seminggu sebelum 12 Rabiul Awwal.

Tradisi ini dipelopori oleh Sunan Bonang. Syair lagu berisi pesan tauhid dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat syahadat atau syahadatain, kemudian menjadi sekaten.

 3. Gerebeg Maulud

Acara ini merupakan puncak peringatan Maulud. Pada malam tanggal 11 Rabiul Awwal ini Sri Sultan beserta pembesar kraton Yogyakarta hadir di masjid Agung. Dilanjutkan pembacaan pembacaan riwayat Nabi dan ceramah agama.

4. Takbiran

Takbiran dilakukan pada malam 1 Syawal (Idul Fitri) dengan mengucapkan takbir bersama-sama di masjid/mushalla ataupun berkeliling kampung (takbir keliling).

5. Muludan

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan mengadakan Muludan. Peringatan ini dipelopori oleh Sultan Muhammad Al Fatih untuk membangkitkan semangat pasukan Muslim pada perang Salib. Peringatan maulid Nabi sebenarnya tidak diperintahkan oleh Nabi melainkan budaya agama semata.

 Di Indonesia peringatan ini dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari Presiden sampai rakyat di desa. Kegiatan ini diisi dengan pembacaan riwayat Nabi (Barzanji) maupun kegiatan lainnya seperti perlombaan.

           6. Tabut/Tabuik

Dilaksanakan pada hari Asyura (10 Muharram) untuk memperingati pembantaian Hasan dan Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah) oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di Karbela. Dilakukan dengan mengarak usungan berwarna-warni (tabut) di pinggir pantai kemudian dibuang ke laut lepas.

Pengarakan biasanya dilaksanakan setelah terlaksananya acara lainnya dengan menghidangkan beraneka macam hidangan makanan.

Upacara ini dilaksanakan secara turun temurun di daerahh Pariaman (Sumatera Barat) dan Bengkulu.

 7. Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah

Masyarakat Minangkabau dikenal kuat dalam menjalankan agama Islam, sehingga adat mereka dipautkan dengan sendi Islam yaitu Al Quran (Kitabullah). Adat Minangkabau kental dengan nuansa Islam sehingga melahirkan semboyan adat basandi syara, syara basandi Kitabullah (Adat bersendikan syara dan syara bersendikan Kitab Allah). 


Sumber/bukti masuknya Islam ke nusantara

Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marcopolo bersama pak Wawan Setiawan Rosadi yang bekerja di LItbang Bappeda Kabupaten Bandung. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.

Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345 megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.

Bukti ketiga berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudra Pasai, Perlak, dan Palembang.

Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.

Bukti keempat menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.
Penyebar Islam di Nusantara

Golongan lain berpendapat bahwa Islam sebenarnya sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas pernyataan pengelana Cina I-tsing yang berkunjung ke Kerajaan Sriwijaya pada tahun 671. Dia menyatakan bahwa pada waktu itu lalu-lintas laut antara Arab, Persia, India, dan Sriwijaya sangat ramai.

Penyebar Agama Islam menurut teori Gujarat, yaitu bahwa penyebarnya adalah Muhammad Fakir. Buktinya, teori ini mendasarkan argumentasinya pada pengamatan terhadap bentuk relief nisan Sultan Malik Al Saleh yang memiliki kesamaan dengan nisan-nisan yang terdapat di Gujarat.

Penyebar Agama Islam menurut teori Makkah, yaitu bahwa penyebarnya adalah Sjech Ismail dari Makiyah. Buktinya adalah, bahwa kelompok penduduk Nusantara pertama yang Islam menganut mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i merupakan mazhab istimewa di Makiyah.

Penyebar Agama Islam menurut teori Persia, yaitu bahwa penyebarnya adalah P.A. Hoessein Djajaningrat. Buktinya adalah pada adanya beberapa kesamaan budaya yang hidup dikalangan masyarakat Nusantara dengan bangsa Persia denagn memperingati Asyura, suatu peringatan bagi kaum Syi'ah.

Penyebar Agama Islam menurut teori Sejarawan, yaitu penyebarnya adalah Wali Songo.
Islamisasi di nunsantara

   
 * Syarat masuk agama Islam tidak berat, yaitu dengan mengucapkan kalimat syahadat.
    * Upacara-upacara dalam Islam sangat sederhana.
    * Islam tidak mengenal sistem kasta.
    * Islam tidak menentang adat dan tradisi setempat.
    * Dalam penyebarannya dilakukan dengan jalan damai.
    * Runtuhnya kerajaan Majapahit memperlancar penyebaran aga


TOKOH-TOKOH ISLAM  INDONESIA TERKEMUKA

Sejak pertama kali Islam datang di Nusantara, Allah telah melahirkan tokoh-tokoh besar, para ulama, cendekiawan,panglima perang, serta pemimpin yang berjasa bagi negeri ini. Mereka berjuang dengan segenap ilmu, tenaga dankemampuannya untuk kemajuan Islam dan kemaslahatan ummat.

Sangat banyak bila harus dituliskan satu persatu, karenanya, yang dicantumkan di halaman ini hanya sebagian kecil saja diantara mereka.
 
* Para da'i pertama di Nusantara
    * Fathahillah (Fadhillah Khan Al-Pasai)
    * Nuruddin Ar-Raniri
    * Syaikh Yusuf Makassar
    * Pangeran Diponegoro
    * Tuanku Imam Bonjol
    * Teuku Umar
    * Syaikh Nawawi Al-Bantani
    * Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
    * Syaikh Hasyim Asy'ari
    * Oemar Said Cokroaminoto
    * K.H. Ahmad Dahlan
    * K.H. A. Hassan
    * Buya HAMKA
    * Muhammad Natsir
   * Muhammad Amien Rais


 Seni Islam Nusantara

1.     Seni Rupa
T
radisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan.Seni ukir relief berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme.Sinkretisme adalah perpaduan 2 jenis seni logam.

    2.  Aksara dan Seni Sastra

Seni sastra zaman Islam yang berkembang di Indonesia sebagian besar mendapat pengaruh dari Persia. Seni-seni sastra berikut :
  • Hikayat         : dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh     sejarah,
  • Babad            : kisah rekaan pujangga keranton,
  • Suluk             : kitab yang membentangkan soal-soal tasawuf,
  • Primbon        :hasil sastra yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari                                      baik/buruk.

    3.  Sistem Pemerintahan

Kerajaan-kerajaan Hindu Budha digantikan kerajaan-kerajaan Islam. Rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para wali. Jika rajanya meninggal tidak lagi dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.
Sistem Kalender, munculnya kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung menggantikan kalender Saka.

4.  Seni Bangunan/Arsitektur

Terutama mempengaruhi bangunan masjid, makam, dan istana. Masjid-masjid memiliki ciri-ciri khusus, antara lain :
  • Atapnya berbentuk tumpang, dan
  • Tidak dilengkapi dengan menara.
Letak masjid biasanya dekat dengan istana. Beberapa jenis masjid di Indonesia :
  • Masjid jami,
  • Masjid madrasah,
  • Masjid makam, dan
  • Masjid tentara.
Bangunan-bangunan lain yang muncul, seperti :
  • istana- istana/kraton,
  • bangunan benteng penahanan, dan
  • makam-makam.
Selain bangunan/arsitektur tersebut, muncul juga berbagai rumah dalam tradisi islam yang terjadi saat itu, seperti :

1.Rumah Gadang
            
Gaya seni bina, pembinaan, hiasan bagian dalam dan luar, dan fungsi rumah mencerminkan kebudayaan dan nilai Minangkabau.

2.Rumah Banjar

 Mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam. Sebagai Contoh salah satu bentuk akulturasi yang bisa kita temui dalam saluran Kesenian, 
Sistem Pemerintahan, Sistem Penanggalan, dan Teknologi.

 5.  Seni Tari dan Musik

Budaya tradisional pada cabang seni tari dan seni musik terdapat pada beberapa upacara adat danm tarian 
rakyat. Di beberapa daerah ada jenis  tarian yang berhubungan dengan nyanyian atau ritual pembacaan salawat yang biasa disebut dengan salawat kompang. Benuk tarian-tarian ini biasanya Dabus dan Seudati.

Tarian Dabus diawali dengan nyanyian atau pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan salawat Nabi. Adapaun Seudati adalah seni tradisional rakyat Aceh yang berupa tarian atau nyanyian.

      Selain seni tari, juga berkembang seni musik yang berupa pertunjukan gamelan, di antaranya yang paling terkenal adalah sekaten. Upacara ini biasa dilakukan di bekas kerajaan, seperti Yogyakarta dan Surakarta, yang sering disebut Grebeg Mulud.
   
 6.  Seni Ukir dan Lukis

Akulturasi seni ukir dan seni lukis Islam dengan seni lukis dan seni ukir tradisional Indonesia dapat dijumpai pada bangunan masjid kuno dan keraton. Ukir-ukiran yang biasa dipahatkan pada tiang, tembok, atap, mihrab, dan mimbar masjid biasanya dibuat dengan pola makara dan teratai. Dalam perkembangan selanjutnya juga muncul dan berkembang seni kaligrafi, yaitu seni melukis indah dengan huruf Arab.

 C. Rangkuman.

1.   Masuknya Islam di Indonesia mengakibatkan akulturasi (perpaduan budaya) dengan budaya asli.

2.  Budaya lokal Sumatera berupa kesusasteraan, ulama yang terkenal adalah Hamzah Fansuri, Syamsudin (Pasai), Abdurrauf Singkil, dan Nuruddin ar Raniri.
          
           3.   Budaya Jawa berupa wayang kulit dengan materi cerita Islam.
         
           4.   Budaya dan seni Islam Sulawesi merupakan saduran dari karya ulama Sumatera.
         
           5.   Tradisi dan upacara adat kesukuan Islami yang berlangsung sampai saat ini adalah    tahlilan, sekaten, gerebeg Maulud, takbiran, Muludan, Tabuik.






1 komentar: